Teologi Brahmana
I.
Pendahuluan
Pada
sajian sebelumnya kita telah membahas mengenai Brahmana dan Upanisad, dan pada
sajian sekarang kita akan membahas mengenai Teologi Brahmana. Melalui
ini kita akan mengetahui apa-apa saja mengenai teologi brahmana. Semoga sajian
ini dapat berguna bagi kita semua.
II.
Pembahasan
2.1.
Lahirnya Agama Hindu
Pada
zaman kuna oleh penduduknya India disebut: Jambudwipa
yang artinya: benua pohon jambu, atau disebut Bharatwarsa, yang artinya: tanah
keturunan Bharata. Nama India dijabarkan dari nama sungai Sindhu, yang mengairi
daerah Barat India. Oleh orang-orang Persia sungai ini disebut sungai Hindu.
Kemudian nama ini diambil-alih oleh orang Gerika, sehingga nama itulah yang
terkenal di dunia Barat. Akhirnya nama itu diambil-alih oleh pemerintahan India
sekarang. Ketika agama Islam dating ke India nama yang diberikan oleh bangsa
Persia timbul kembali dengan bentuk Hindustan, sedang penduduknya yang masih
memeluk agama India asli disebut orang Hindu.
Oleh
orang Pribumi sendiri agama Hindu disebut: Sanatana Dharma, yang berarti: agama
yang kekal. Agama Hindu bukanlah agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu
adalah suatu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi zaman sejak
kira-kira 1500 s.M. hingga zaman
sekarang. Di dalam perjalanannya di sepanjang abad-abad itu agama Hindu
berkembang sambil berubah dan terbagi-bagi, sehingga memiliki cirri yang
bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi
kadang-kadang tidak diidahkan sama sekali.[1]
Menurut
sejarah, agama Hindu itu dibagi menjadi 2 masa yaitu: masa sebelum dan sesudah
serangan-serangan Islam kira-kira tahun 1000 s.M. Meskipun agama Islam mendapat
penganut di India, tetapi agama tersebut tidak besar pengaruhnya terhadap agama
Hindu.[2]
2.2.
Teologi Brahmana
Agama
Brahmana bersumber kepada Kitab Brahmana, yaitu bagian kitab Weda yang kedua.
Kitab ini dituliskan oleh para Imam atau Brahmana dalam bentuk prosa. Isinya
memberi keterangan tentang korban. Hal ini disebabkan karena zaman ini adalah
suatu zaman yang memusatkan keaktifan rohaninya kepada korban.[3]
Kitab Sama Weda terdiri atas 1000 bagian.[4]
Kitab ini berisikan nazam dan nyanyian-nyanyian terutama pada waktu mau
memotong korban untuk Dewa Soma Devita.[5]
Teologi Brahmana mengelompokkan ajarannya menjadi dua bagian yaitu:
1. Teologi
Brahmana Wedanta
2. Teologi
Brahmana Sankhya
2.2.1.
Teologi
Brahmana Wedanta
Wedanta
artinya: akhirnya weda atau selesainya weda. Wedanta membicarakan apa yang
disebut “jnana marga”, artinya: “jalan ilmu” . Itu berarti, bahwa
Wedanta menunjukkan suatu jalan kelepasan dengan mempergunakan ilmu.
Paham-paham
Weda ini ditetapkan secara dogmatis dan selanjutnya dikembangkan oleh lima
macam “pandangan” atau dogmatika (darsana) yaitu:
1. Nyaya
atau teori tentang seni bantah
2. Weiseshika
atau “Susunan keistimewaan yang dibedakan”
3. Mimansa,
penyelidikan, yaitu theologia, dibagi atas dua bagian yakni:
a. Purwa-
Mimansa atau Theologia Upacara
b. Uttara-Mimansa atau disebut juga Wedanta,
penetapan dogmatis dari paham Upanisad
4. Sankhya
atau susunan yang berupa bilangan
Darsana-darsana
itu menekankan bahwa berpikir menurut akal itu sendiri tidak memberi kepastian.
Darsana-darsana ini hanya hendak menerangkan kebenaran yang kekal daripada
Weda-weda yang diwartakan oleh dewa-dewa. Darsana-darsana itu mau digunakan
untuk menolong dunia yang menderita, dunia yang telah terjerat dalam samsara
dan mau membimbing ke arah kelepasan dan ketentraman yang kekal.
Kitab
yang termasyur dari pengajaran Wedanta ialah Brahmasutra yang dituliskan oleh
Badarayana. Sutra ialah kitab pelajaran yang singkat, tersusun dari amsal-amsal
pendek, yang baru dapat menjadi terang setelah dijelaskan dengan lisan oleh
guru. Keterangan-keterangan atau tafsiran-tafsiran yang terkenal mengenai
Brahmasutra yaitu:
1. Tafsiran
Sankara dari ± abad ke-8
2. Tafsiran
Ramanuja dari ± abad ke-11[8]
Pada
aliran Sankara pertautan (antara dewa-dewa dan manusia) itu lenyap karena
dianggap tidak perlu lagi; bagi pujangga tersebut dewa-dewa juga termasuk
bidang penipuan diri manusia; dewa-dewa itu sebetulnya tidak ada, tetapi
manusia menggambarkan substansi purba, sang Brahmana itu, dalam bentuk
dewa-dewa.[9]
Sankara tidak mengakui adanya pengalaman/ penalaran indenpenden apa pun yang
dapat menegaskan pernyataan bahwa Brahman yang diberikan dalam Upanisad,
Brahman tidak memiliki sifat.[10]
Penafsiran
Sankara itu banyak mengambil dari Buddhisme, terutama dari Maha-Yana.
Keterangan-keterangan kadang-kadang sangat menyimpang dari yang dimaksud oleh
Badarayana.
Sistem
Sankara dapat disifat-khaskan dengan istilah akosmisme, artinya tidak mengakui
adanya dunia yang dapat dialami. Yang kekal yang tidak berubah (sat), yang
menjadi Roh (cit), dan yang didalam ketenangannya berupa kebahagiaan (ananda),
menjadikan dunia jasmani itu dengan hikmah (sihir), dengan suatu kesemuan. Sat
mengakui dunia jasmani ini dalam bentuk jiwa-jiwa yang banyak, yang mengalami
samsara disitu dan menjalankan karma. Secara semu juga sat menguasai seluruh
dunia sebagai Raja (Isvara). Peralihan yang kekal (sat) kedunia yang jasmani
dengan mempergunakan hikmah itu disebut maya, tetapi maya itupun ilusi dan atau
khayal. Didalam ajaran ini ada suatu hikmat yang tinggi dan hikmat yang rendah.
Hikmat yang rendah mengakui adanya Raja (Isvara); sukma manusia serupa dangan
Isvara itu. Dengan kepatuhan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban kasta dan
aturan-aturan keagamaan, jiwa (sukma) itu mendapat pengampunan dari Sang Isvara
dan dengan demikian sukma itu dapat memasuki hikmat yang lebih tinggi. Dengan
perlengkapan itu orang mencapai kelepasan (moksa) dan mengalahkan samsara.
Pada
ilmu tentang maya itu terkaitlah ilmu tentang ke empat keadaan sukma. Ia
membedakan keadaan tersebut sebagai berikut:
1. Jaga.
Yang paling hakiki didalam keadaan juga ialah mengalami susah dan takut.
2. Mimpi.
Ini suatu keadaan yang lebih tinggi karena didalam mimpi susah dan takut itu
menjadi sesuatu yang tidak sesungguhnya.
3. Tidur
Nyenyak. Ini merupakan suatu keadaan yang lebih tinggi lagi, karena didalam
tidur nyenyak orang malahan terbebas dari rasa susah dan takut yang tidak sesungguhnya itu.
4. Ekstase
atau Lupa diri. Ini tingkatan yang tertinggi karena dalam ekstase manusia
mengalami ketentraman tidur secara sadar.
Karena
Sankara itu julukan Siva. Sebaliknya Ramanuja adalah seorang Brahmana, yang
menjadi pengikut agama Visnu.
Ramanuja
tidak mengakui suatu keadaan abadi yang abstrak, yang menciptakan dengan ilmu
sihir. Keabadian (sat) yang dinyatakan dengan kata benda Brahman dilukiskan
olehnya sebagai suatu Allah yang berpribadi, yang menghakimi dan memutuskan,
yang memberi daya kepada karman sukma-sukma, tetapi berkuasa juga member
pengampunan. Selain itu Ramanuja juga mengenal lagi suatu segi badani. Dunia
badani ini masih diperinci lagi menjadi dunia jasmani dan jiwa-jiwa yang kekal.
Dengan
demikian ada 3 golongan keabadian, yaitu:
1.
Tuhan, pertimbangan dan keputusannya
tidak bergantung kepada hal-hal di luar Dia.
2. Dunia
jasmani
3. Jiwa-jiwa
yang kekal, disuatu pihak menjadi bagian-bagian Tuhan, tetapi dilain pihak
mengandung Tuhan sebagai saksi.[11]
2.2.2. Teologi
Brahmana Sankhya
Sankhya
terjadi karena dua patah kata yakni “san”, artinya bersama-sama atau dengan; dan
“khya”, artinya bilangan. Jadi Sankhya artinya pejumlahan. Didalam system ini
dapat ditunjukkan pikiran-pikiran pokok sebagai berikut:
a. Perlawanan
Kosmis adalah perlawanan antara roh (purusa) dan materi (prakrti). System
sankhya mengajarkan bahwa prakrti itu satu dan abadi, purusa tiada terhingga
banyaknya tetapi abadi juga. Selanjutnya diajarkan oleh system ini, bahwa dunia
bisa diamati oleh panca indra itu sesungguhnya ada. Oleh karena itu penganut
ajaran Sankhya menamakan system itu suatu pandangan (vada) yang menganggap
bahwa kerja atau peristiwa (karya) itu kenyataan (sat).
b. Hubungan
antara prakrti dan purusa diterangkan sebagai suatu perkawinan. Bila pada
system sankhya nisbah antara purusa dan prakrti dilukiskan sebagai suatu
perkawinan maka artinya demikian: antara purusa dan prakrti terdapat suatu daya
tarik yang mendekatkan keduanya eros atau cinta.
c. Dalam
system sankhya purusa itu sesuatu yang sangat halus dan tidak dapat diberi
definisinya. Segala gejala psikis, segala yang ada pada diri kita termasuk
benda pengamatan ilmu jiwa oleh sankhya dipandang tergolong dalam prakrti.
Purusa hanya penonton (sakhsin) saja pada peristiwa-peristiwa dalam. Prakrti
adalah substansi yang universal yang tidak diberi bentuk ialah alam dalam arti
yang seluas-luasnya. Didalam prakrti terdapat tiga bagian yang membentuk
semesta yang disebut guna, yakni:
1. Sattva,
adalah “adanya yang ada”. Sattva itu juga sesuatu memberi kepuasan, yang memberi
ketentraman, yang menenangkan hati manusia.
2. Rayas,
adalah nafsu yang berkobar yang tidak dapat dikekang, ialah sesuatu yang
menimbulkan rasa tidak senang dan tentram.
3. Tamas,
adalah kegelapan, yang berat, yang tidak bernafsu (yang indolen) yang muram,
merasa sedih, hancur dan dukacita.
Ketiga
guna ini menentukan segala peristiwa didunia dan didalam hidup manusia.
Guna-guna itu tidak dapat diberi definisinya tetapi dapat dirasakan apa yang
ditimbulkannya.
d. Hubungan
(samyoga) antara prakrti dan purusa. Purusa dan prakrti itu saling dekat
mendekati mulailah prakrti itu mencipta: dari keadaan yang tidak berbentuk dan
dari kemungkinan yang alami beralihlah prakrti itu menjadi sesuatu yang
berbentuk (rupa). Dalam saling mendekati dari prakrti dan purusa berkembanglah
kabut menyelimuti purusa yang makin bertambah tebal.
Jika
prakrti dan purusa saling dekat-mendekati, terjadilah yang banyak seluk
beluknya sebagai berikut:
1. Mula-mula
lahirlah budi, kesadaran
2. Unsur
yang kedua adalah ahamkara, artinya sang pembuat aku, kesadaran akan adanya
suatu “aku” (Kesadaran-subyek)
3. Manas:
kekuatan untuk mengamati dan untuk memberi reaksi terhadap apa yang telah
diamati itu.
4-13. Manas membagi diri menjadi sepuluh daya
kekuatan yang bermacam-macam, lima diantaranya kemungkinan pengindaraan
(budi-indria):
-
Perasaan
-
Pendengaran
-
Penglihatan
-
Pengecap
-
Penciuman
Dan lima lagi kemungkinan perbuatan
(karma-indria):
-
Berkata
-
Memengang
-
Berjalan
-
Mengosongkan
-
Bersalin
14-18.
Kemungkinan pengindraan itu mendapat juga isi kelima tanmatra, kecuali daya
penglihatan (Gezict Svermogen) ada juga kesan-kesan penglihatan; selain perasaan
ada juga pengindraan perasaan.
19-23.
Benda (materi) yang kasar, “zat” didalam pengertiaan filsafat barat dalam 5
buah anasir:
-
Eter (mahabuta)
-
Hawa
-
Api
-
Air
-
Bumi
Jika
pada 23 pokok ini kita tambahkan lagi prakrti dan purusa terdapatlah 25. Ini
adalah bilangan yang paling keramat pada system Sankhya.
e. Kepada
buddhi diberikan 8 buah bentuk atau keadaan (bhawa), yang meresapi seluruhnya
dengan bau. Tujuh diantaranya menahan buddhi didalam samsara. Purusa itu memang
disangka bahwa ia aktif tapi itu hanya kelihatan (semu) saja.
f. Apabila
purusa itu telah sampai pada pandangan atau pengertian yang betul (jnana) dan
ia mulai mengerti, bahwa ia hanya menjadi sakshin saja, maka tercapailah
olehnya masa tingkatan pelepasan. Kelepesan itu terletak pada pengetahuan tentang
dua keadaan pokok, yakni prakrti dan purusa.
g. Guna
mencapai mokhsa didalam segala pengajaran Agama Hindu digunakan yoga. Yoga
berarti berusaha sekuat-kuatnya dan dalam ajaran tentang kelepasan yoga itu
berarti latihan-latihan rohani, yang menyebabkan orang dapat memisahkan purusa
dari prakrti, didalam yoga itu yang menjadi tujuan ialah kelepasan mokhsa.
h. Didalam
Sankhya tidak terdapat Tuhan. Itu suatu system yang tidak mengenal Tuhan,
system atheistis, seperti agama Buddha yang timbul pada masa yang bersamaan dan
mula-mula atheistis juga.
Didalam
agama Hindu tiap-tiap bilangan itu mempunyai nilai yang magis.
Satu
adalah bilangan kesatuan yang tidak mengenal Tuhan, sesuatu yang tidak
terpecah-pecah, bilangan itu juga bertalian dengan keadaan asal dan unsur asal
laki-laki.
Dua
adalah pemecahanan, penguaraian, percabiakan, dan kegelapan, bila itu bertalian
dengan unsur perempuan.
Empat
adalah bilangan keempat mata angin dan dengan begitu bilangan kosmos pula
sebagai keluasan didalam serba banyaknya gejala-gejala.
Lima
adalah dunia-dunia dengan keempat mata angin beserta titik puncaknya (zhenit)
dan oleh karena itu adalah bilangan kosmos.
Sembilan
di Jawa menjadi bilangan lubang, karena badan manusia mempunyai Sembilan buah
lubang dan begitu juga 9 itu menjadi bilangan pintu dan gapura.
Bigitulah
di India dan seluruh dunia Timur. Bilangan itu tidak pernah dipandang yang
netral dan sembarangan.[12]
III.
Kesimpulan
Dari
pemaparan diatas mengenai Teologi Brahmana, kami penyaji menyimpulkan
bahwa didalam teologi Brahmana terdapat dua bagian yaitu: Wedanta dan Sankhya.
Pada Wedanta membicarakan apa yang disebut dengan jnana marga, yang berarti bahwa Wedanta menunjukkan suatu jalan kelepasan dengan
mempergunakan ilmu (pengetahuan), sedangkan pada Sankhya bahwa mokhsa diperoleh
bila purusa sudah terlepas dari prakrti melalui jnana yoga.
IV.
Daftar
Pustaka
Cefebure, Leo D., Penyataan Allah, Agama dan Kekerasan, Jakarta: BPK-GM, 2006
Effendy, Mochtar, Ensiklopedi Agama dan Filsafat, Palembang: Universitas Sriwijaya,
2001
Hadiwijono, Harun, Agama Hindu dan Buddha, Jakarta: BPK-GM, 1989
Honig, A.G., Ilmu
Agama, Jakarta: BPK-GM, 2005
Sipahutar, P. & Arifinsyah (Ed), Ensiklopedi Praktis Kerukunan Hidup Umat
Beragama, Bandung: Citapustaka Media, 2003
Van Peursen, C.A., Strategi Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius, 1988
Chrisnov M. Tarigan
Mahasiswa STT Abdi Sabda Medan
[1] Hadiwijono, Harun, Agama Hindu dan Buddha, Jakarta: BPK-GM,
1989,hlm. 9-11
[2] Honig, A.G., Ilmu Agama, Jakarta: BPK-GM, 2005, hlm.
93-94
[3] Hadiwijono, Harun, Op.cit, hlm.17-18
[4] Sipahutar, P. & Arifinsyah
(Ed), Ensiklopedi Pratis Kerukunan Hidup
Umat Beragama, Bandung: Citapustaka Media, 2003, hlm. 226
[5] Effendy, Mochtar, Ensiklopedi Agama dan Filsafat, Palembang:
Universitas Sriwijaya, 2001, hlm. 331
[6]
Yoga Hindu dimaksudkan untuk membantu orang keluar dari roda eksistensi
individual yang adalah tragedi ini. Tujuan Yoga Hindu adalah membantu individu
dalam proses penyerapan ke dalam Brahma yang universal. Maksudnya ialah
menolong orang tersebut melepaskan pemahaman yang keliru tentang keberadaan
pribadi seseorang. Penghentian eksistensi personal harus menjadi tujuan orang
yang bersangkutan. Shenk, David W., Ilah-ilah
Global (Menggali Peran Agama-agama dalam Masyarakat Modern, Jakarta:
BPK-GM, 2006, hlm.107
[7] Honig, A.G., Op.cit, hlm. 125-126
[8] Ibid, hlm. 126
[9] Van Peursen, C.A., Strategi Kebudayaan, Yogyakarta:
Kanisius, 1988, hlm. 77
[10] Cefebure, Leo D., Penyataan Allah, Agama dan Kekerasan, Jakarta:
BPK-GM, 2006, hlm. 221
[11] Honig, A.G., Op.cit, hlm.126-127
[12]
Honig, A.G., Op.cit, hlm. 128-137
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Bijaksanalah memberikan pendapat, setiap pendapat harus dibangun atas dasar yang jelas